Laci Hari Kamis
Menyambut Jum'at Kadang aku suka heran, kenapa Kamis selalu punya suasana yang sulit dijelaskan. Bukan sepadat Rabu, tapi juga belum setenang Jumat. Ada capek yang menggantung, tapi juga harapan kecil yang mulai menyalakan lampu di ujung minggu. Mungkin itu sebabnya aku ingin menulis ini—sekadar menaruh sedikit cerita di antara lelah dan lega. Hari Kamis selalu punya rasa yang aneh—antara mau menyerah dan mau bersyukur. Di satu sisi, tubuh udah mulai berat, kepala penuh, dan kopi kedua pun rasanya cuma formalitas. Tapi di sisi lain, ada semangat kecil yang mulai berbisik: “Bentar lagi Jumat… bentar lagi lega.” Kamis itu seperti laci paling bawah di meja kerja. Tempat kita nyimpan sisa-sisa semangat dari Senin sampai Rabu, tapi juga tempat kita sembunyiin harapan kecil buat akhir pekan. Kadang isinya berantakan—catatan kecil, rencana yang belum kelar, atau sisa mimpi yang belum sempat dijemput. Tapi justru di situ hangatnya: kita masih punya tenaga buat lanjut, walau pelan. Mungkin...




