Laci Hari Kamis

 Menyambut Jum'at



Kadang aku suka heran, kenapa Kamis selalu punya suasana yang sulit dijelaskan.
Bukan sepadat Rabu, tapi juga belum setenang Jumat.
Ada capek yang menggantung, tapi juga harapan kecil yang mulai menyalakan lampu di ujung minggu.
Mungkin itu sebabnya aku ingin menulis ini—sekadar menaruh sedikit cerita di antara lelah dan lega.

Hari Kamis selalu punya rasa yang aneh—antara mau menyerah dan mau bersyukur.
Di satu sisi, tubuh udah mulai berat, kepala penuh, dan kopi kedua pun rasanya cuma formalitas. Tapi di sisi lain, ada semangat kecil yang mulai berbisik: “Bentar lagi Jumat… bentar lagi lega.”

Kamis itu seperti laci paling bawah di meja kerja. Tempat kita nyimpan sisa-sisa semangat dari Senin sampai Rabu, tapi juga tempat kita sembunyiin harapan kecil buat akhir pekan.
Kadang isinya berantakan—catatan kecil, rencana yang belum kelar, atau sisa mimpi yang belum sempat dijemput. Tapi justru di situ hangatnya: kita masih punya tenaga buat lanjut, walau pelan.

Mungkin Kamis memang diciptakan supaya kita belajar berdamai.
Berdamai dengan tumpukan tugas, dengan waktu yang terasa cepat, dan dengan diri sendiri yang masih berusaha bertahan sambil tersenyum.

Jadi, kalau hari ini terasa berat, nggak apa-apa.
Buka aja “laci Kamismu” pelan-pelan. Lihat apa yang udah kamu simpan, dan syukuri: ternyata kamu masih di sini, masih berjalan, dan sebentar lagi… Jumat datang mengetuk. 🌻

Dan saat nanti Jumat benar-benar tiba, semoga kita bisa menutup laci itu dengan tenang—bukan karena semua sudah selesai, tapi karena kita tahu, kita sudah berusaha sebaik mungkin hari ini.


Comments