Kenapa Pikiran Gatal Itu Harus Ditulis?

 Kadang yang bikin kepala gatal bukan kutu, tapi pikiran.

Kadang bukan karena lupa keramas, tapi karena hidup itu absurd.


So here's the thing—

gatal di kepala itu sering datang barengan sama ide. Bukan ide besar, ya. Kadang cuma:


> “Kalau cicak bisa ikut Zoom meeting, kira-kira dia bakal unmute pas nyanyi?”




Tapi tetap aja... kalau nggak ditulis, dia jadi sarang ketombe eksistensial.

Bikin gatal. Bikin risih.

Bikin kamu gelisah di tengah toko swalayan gara-gara mikir,


> “Kenapa ya aku tiba-tiba inget kalimat random dari 2009?”




And that’s why we write.


Bukan buat bikin hidup lebih masuk akal.

Tapi buat kasih tempat buat semua absurd itu... biar nggak numpuk di ubun-ubun.


So yes, kepala gatal harus ditulis.

Karena kalau enggak, bisa-bisa kamu tidur bareng ide liar yang minta dikerok.

Comments